Sedangkan malaria setiap
tahunnya menyebabkan 300 juta orang terjangkit dan sekitar sejuta orang
di seluruh dunia meninggal akibat penyakit itu. Sejumlah 90% kasus
terjadi di Afrika sub Sahara, di mana seorang anak meninggal akibat
malaria setiap 30 detik. Di Indonesia, secara statistik jumlah penderita
malaria tidak terlalu banyak dibandingkan dengan negara-negara Afrika,
meskipun jumlahnya masih cukup besar. Jumlah pasien malaria tahun 2011
tercatat sebanyak 256.592 orang dengan jumlah kematian 388 orang,
menurun dari 2010 yang berjumlah 432 kematian.
Hingga saat ini, tidak ada vaksin atau
pengobatan khusus untuk DBD. Perawatan medis terutama dilakukan dengan
mengelola demam dan memastikan kecukupan cairan tubuh, untuk mencegah
komplikasi mematikan. Satu-satunya cara untuk mencegah penyakit ini
adalah dengan mengontrol perkembangan nyamuk pembawa virusnya, yaitu Aedes aegypti, melalui pembersihan lingkungan dan penerapan insektisida (fogging, bubuk larvisida).
Usaha untuk penanggulangan penyakit
malaria juga belum menunjukkan hal yang menggembirakan. Usaha yang
dilakukan diantaranya adalah menggunakan pestisida pada kelambu,
menangkap nyamuk dengan net dan kemudian membunuhnya dengan cara
membakar. Penggunaan pestisida bisa menyebabkan munculnya nyamuk yang
resisten terhadap pestisida, sehingga tidak memungkinkan penggunaan
pestisida yang sama untuk jangka waktu yang lama. Penggunaan obat
anti-malaria yang kebanyakan tidak efektif karena parasit menunjukan
resistensi yang cepat terhadap obat-obat tersebut, apalagi obat yang
dipakai hanya satu jenis. Usaha lain adalah pengembangan vaksin untuk
pencegahan juga dilakukan, namun sampai saat ini belum ada vaksin yang
bisa digunakan.
Dewasa ini tehnologi rekayasa
genetik dilirik untuk mengatasi permasalahan DBD dan malaria. Para
ilmuwan mencoba menciptakan nyamuk transgenik yang akan
diintroduksi/dilepaskan ke dalam lingkungan. Sebuah terobosan yang
menjadi harapan pun sekaligus kekhawatiran.
Nyamuk Transgenik untuk Penanggulangan DBD.
Nyamuk transgenik Aedes aegypti jantan dikembangkan para ilmuwan di bawah bendera Oxitec, lembaga penelitian yang didirikan Universitas Oxford. Harapannya adalah Nyamuk-nyamuk transgenik jantan yang dilepaskan akan mencari dan mengawini betina A. aegypti di alam liar, bersaing dengan para pejantan alami. Ketika nyamuk jantan transgenik kawin dengan betina liar, keturunannya akan melalui tahap larva (jentik), tetapi mati sebagai kepompong sebelum mencapai dewasa. Dengan berulang-ulang melepaskan pejantan transgenik, maka populasi nyamuk pembawa virus ini akan berkurang hingga di bawah tingkat minimum yang diperlukan untuk mendukung penyebaran DBD. Metode ini dianggap sebagai alternatif insektisida yang lebih aman karena nyamuk jantan tidak menggigit atau menyebarkan penyakit, dan hanya kawin dengan betina dari spesies yang sama.
Nyamuk transgenik Aedes aegypti jantan dikembangkan para ilmuwan di bawah bendera Oxitec, lembaga penelitian yang didirikan Universitas Oxford. Harapannya adalah Nyamuk-nyamuk transgenik jantan yang dilepaskan akan mencari dan mengawini betina A. aegypti di alam liar, bersaing dengan para pejantan alami. Ketika nyamuk jantan transgenik kawin dengan betina liar, keturunannya akan melalui tahap larva (jentik), tetapi mati sebagai kepompong sebelum mencapai dewasa. Dengan berulang-ulang melepaskan pejantan transgenik, maka populasi nyamuk pembawa virus ini akan berkurang hingga di bawah tingkat minimum yang diperlukan untuk mendukung penyebaran DBD. Metode ini dianggap sebagai alternatif insektisida yang lebih aman karena nyamuk jantan tidak menggigit atau menyebarkan penyakit, dan hanya kawin dengan betina dari spesies yang sama.
Studi lapangan telah dilakukan Oxitec di
kepulauan Cayman, sebuah wilayah luar Inggris di Karibia. Nyamuk-nyamuk
hasil rekayasa genetik dilepaskan di wilayah tersebut. Dari pantauan
mereka nyamuk transgenik telah berhasil mencari pasangan dan kawin
dengan A. aegypti betina, terbukti dengan jentil-jentik nyamuk yang
ditemukan dalam area studi mengandung transgen.
Nyamuk Transgenik untuk Penanggulangan Malaria.
Penanggulangan Malaria dengan Nyamuk
Transgenik adalah dengan cara introduksi/menyebarkan nyamuk transgenik
ke alam bebas. Mereka berharap nyamuk baru ini akan dapat berkembangbiak
dan mengalahkan nyamuk pembawa penyakit. Nyamuk itu membawa gen yang
dapat menangkis infeksi dari parasit malaria.
Rincian penelitian oleh satu tim di Amerika Serikat ini diterbitkan di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences
(PNAS). Di laboratorium, nyamuk transgenik dan nyamuk biasa dibiarkan
menggigit tikus yang terinfeksi malaria. Sewaktu nyamuk-nyamuk tersebut
berkembang biak, jumlah nyamuk transgenik yang dapat bertahan hidup
lebih banyak dari nyamuk pembawa penyakit. Setelah sembilan generasi,
70% nyamuk yang ada adalah nyamuk yang kebal terhadap malaria.
Para peneliti menyimpulkan bahwa hasil
ini memiliki implikasi penting bagi implementasi pengendalian malaria
dengan cara modifikasi gen nyamuk. Nyamuk transgenik yang memiliki
kemampuan mengacaukan pertumbuhan parasit malaria akan membuat organisme
sulit berkembang setelah dimusnahkan dari satu daerah. Tetapi
penelitian itu memiliki tantangan besar, menyebarkan gen itu dari seekor
nyamuk hasil rekayasa genetika ke semua nyamuk di seluruh dunia
bukanlah pekerjaan ringan. Kalau gen itu tidak memberikan keuntungan
bagi nyamuk tersebut, gen tersebut akan hilang.
Kekhawatiran yang Muncul terhadap Nyamuk Transgenik.Terhadap pengembangan nyamuk A. aegypti jantan transgenik yang dikembangkan Oxitec (OX513A) banyak kelompok masyarakat yang meminta untuk dilakukan kajian ulang yang lebih transparan. Sebuah tuntutan yang wajar mengingat akan kemungkinan atau resiko yang bisa terjadi.
Sejumlah kelompok lingkungan telah menyatakan keprihatinan terhadap pendekatan rekayasa genetika ini. Misalnya, Kelompok ETC di Ottawa, Kanada, dan EcoNexus Oxford, Inggris, yang menyatakan bahwa pelepasan nyamuk transgenik di alam liar dapat menciptakan sebuah “ceruk kosong” yang dapat diisi oleh nyamuk lain yang serupa, jika tidak lebih berbahaya. Kekhawatiran lainnya adalah kemungkinan konsekuensi yang belum dieksplorasi terhadap organisme lain di rantai atas makanan, misalnya cicak.
Rencana Uji lapangan nyamuk transgenik
di Pahang dan Melaka, Malaysia misalnya, juga mendapat tentangan para
ahli seperti Dr. Lim Thuang Seng, seorang ahli imunologi. Menurutnya Uji
lapang nyamuk rekayasa genetik (transgenik) di Pahang dan Melaka,
Malaysia tidak akan menimbulkan solusi apa pun dalam menghilangkan demam
berdarah akibat serangan nyamuk Aedes aegypti di Malaysia, sebaliknya
akan meningkatkan risiko kesehatan di Malaysia. Dr Lim meminta
Pemerintah Malaysia untuk serius mempertimbangkan kembali niat
melepaskan nyamuk transgenik ini. Meskipun ada klaim resmi bahwa
penelitian pada pelepasan nyamuk transgenik di Pulau Cayman untuk
menghilangkan Aedes aegypti sukses, namun Dr Lim meragukan berapa lama
pulau itu akan terbebas dari Aedes aegypti tanpa pelepasan
nyamuk laki-laki transgenik secara berkesinambungan, sementara
perusahaan yang mengembangkan nyamuk transgenik mengklaim nyamuk jantan
transgenik akan mati dalam beberapa hari.
Menurut informasi Third World Network
(TWN) pada 22 November 2010, rencananya Malaysia melakukan uji lapang
nyamuk Aedes aegypti rekayasa genetik (transgenik) di sebuah kota kecil
di negara bagian Pahang yang berjarak tidak jauh dari Kuala Lumpur dan
negara bagian Melaka. Berdasarkan percobaan lapangan, nyamuk Aedes
aegypti jantan transgenik (OX513A) akan dilepas dan dipelajari. Jika
percobaan berhasil, nyamuk transgenik dapat digunakan sebagai bagian
dari program untuk mengurangi demam berdarah di Malaysia, penyakit yang
saat ini merajalela di negara ini.
Nyamuk transgenik secara genetik direkayasa untuk memasukkan dua sifat baru, yaitu: fluoresensi dan lethality bersyarat. Sifat fluoresensi bertindak sebagai penanda bagi nyamuk transgenik. Ketika nyamuk laki-laki transgenik kawin dengan nyamuk betina di alam bebas, sifat lethality bersyarat akan diteruskan kepada keturunannya dan larva nyamuk yang dihasilkan akan mati, hal ini terjadi bila tidak ada antibiotik tetrasiklin. (Terhadap hasil uji lapangan di malaysia ini belum ada pelaporan lebih lanjut yang bisa diakses – aan).
Lebih lanjut Dr Lim menyatakan, berdasarkan pengalaman Kepulauan
Cayman dalam memerangi nyamuk A. aegypti, percaya metode tradisional
pengendalian nyamuk yang digunakan saat ini cukup efektif jika
dipraktikkan dalam kombinasi dan dilaksanakan terus menerus.Nyamuk transgenik secara genetik direkayasa untuk memasukkan dua sifat baru, yaitu: fluoresensi dan lethality bersyarat. Sifat fluoresensi bertindak sebagai penanda bagi nyamuk transgenik. Ketika nyamuk laki-laki transgenik kawin dengan nyamuk betina di alam bebas, sifat lethality bersyarat akan diteruskan kepada keturunannya dan larva nyamuk yang dihasilkan akan mati, hal ini terjadi bila tidak ada antibiotik tetrasiklin. (Terhadap hasil uji lapangan di malaysia ini belum ada pelaporan lebih lanjut yang bisa diakses – aan).
Pertanyaan penting yang harus dijawab
terkait penggunaan nyamuk transgenik adalah tentang apa yang para
ilmuwan boleh dan tidak boleh lakukan. Dapatkah mereka membatasi
nyamuk yang terbang, atau manusia yang digigit nyamuk buatan
laboratorium? Dan siapa yang mengendalikan kegiatan tersebut jika hal
ini dilakukan sebuah perusahaan yang berusaha mendapatkan keuntungan
dari itu? Disisi lain perusahaan lebih memilih menyembunyikan
teknologi mereka, terutama tentang potensi bahaya. Padahal seharusnya
karya perusahaan biotek harus transparan. Itulah inti dari masalah
tersebut. Hal demikian juga berlaku bagi penggunaan nyamuk transgenik
Anopheles untuk penanganan malaria. Jangan sampai nantinya pengujian
lapangan dilakukan sembunyi-sembunyi, seolah masyarakat dijadikan
kelinci (yang ‘congek’ untuk) percobaan.
Mengingat ketidakpastian dan banyak
keprihatinan yang disampaikan berkaitan dengan teknologi, kesehatan,
lingkungan, dan sebagainya, banyak pihak meminta untuk memikirkan
kembali proyek nyamuk transgenik ini. Metode-metode pengendalian dengue
maupun malaria lain yang kurang berisiko/lebih aman untuk bisa
dipertimbangkan dan ditingkatkan, seperti penelitian yang dilakukan
para ilmuwan dari Inggris dan Amerika Serikat yang melakukan rekayasa
genetik terhadap jamur Metarhizium anisopliae. Peneliti
menemukan bahwa dalam kombinasi tertentu jamur transgenik ini memiliki
kemampuan untuk menghentikan perkembangan parasit penyebab malaria di
dalam nyamuk. Dalam jurnal Science, peneliti mengungkapkan cara
ini menjadi pendekatan yang ramah lingkungan dalam memerangi malaria,
serta bisa juga digunakan untuk mengendalikan penyakit akibat serangga
seperti demam berdarah.
Untuk WHO sebagai badan kesehatan dunia
PBB yang bertanggungjawab terhadap masalah penanggulangan DBD dan
malaria, perlu segera menyusun agenda penanggulanggan serta mengatur
penggunaan tehnologi rekayasa genetik di lapangan.(aan)
Sumber-sumber:http://ggfw.blogspot.com/2010/12/nyamuk-transgenik-tingkatkan-risiko.html
http://majalahkesehatan.com/nyamuk-transgenik-harapan-baru-penanggulangan-dbd/
http://www.kamusilmiah.com/biologi/nyamuk-transgenik-strategi-baru-pengontrol-malaria/
http://www.sehatnews.com/2012/04/25/tak-banyak-penderita-malaria-di-indonesia-tapi-jumlahnya-besar/
http://majalahkesehatan.com/nyamuk-transgenik-harapan-baru-penanggulangan-dbd/
No comments:
Post a Comment